SUNAT atau sirkumsisi terbukti efektif menekan resiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada laki-laki. Prof. Dr. Zubairi Djoerban dari Pusat Layanan Terpadu HIV-AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, Jumat (29/8), mengatakan, analisa tersebut terlihat dari hasil penelitian di Uganda, Kenya dan Afrika Selatan yang dipresentasikan pada Konperensi AIDS Internasional di Meksiko pada 3-8 Agustus lalu."Efek perlindungannya menurut hasil penelitian itu mencapai 58 persen," katanya serta menambahkan bahwa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sunat tidak terbukti dapat meningkatkan perilaku seksual beresiko.Menurut dia, pada orang yang disunat, bagian ujung kulit penis yang banyak mengandung reseptor penerima virus HIV sudah dipotong sehingga virus yang menempel menjadi lebih sulit masuk ke dalam tubuh."Bagian itu mengandung sel-sel langerhans yang mudah dimasuki HIV, kalau bagian ini dipotong maka virus jadi lebih sulit masuk, setidaknya pintu-pintu masuknya jadi berkurang," katanya. Prof. Zubairi menjelaskan pula bahwa sunat merupakan metode sederhana yang bisa dilakukan untuk menekan resiko penularan HIV dan bahkan akan bisa memberikan efek perlindungan lebih besar dibandingkan vaksin sekalipun jika nanti berhasil ditemukan.Tentang perbandingan vaksin dan sunat, Prof.Robert C.Bailey dari School of Public Health, Medical College of the University of Illionois, bahkan mengatakan,"kalau suatu saat nanti kita menemukan vaksin AIDS yang efektif menekan penularan HIV hingga 50 persen, kita akan euforia. Dan vaksin tidak pernah hanya satu kali suntikan, harus diulang. Sekarang kita mempunyai sarana intervensi yang terbukti dapat menekan penularan hingga 60 persen, dikerjakan hanya satu kali seumur hidup dan berlaku seterusnya."Ketua Bidang Penanggulangan Penyakit Menular Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Pandu Riono, PhD menjelaskan pula bahwa sunat pada pria juga memberikan efek pengurangan resiko penularan penyakit pada pasangannya."Menurut hasil penelitian sunat juga dapat menurunkan resiko penularan kanker leher rahim pada pasangan karena dapat menurunkan resiko infeksi HIV pada penis," katanya.Namun demikian, kata dia, tentu saja sunat bukan satu-satunya metode pencegahan penularan HIV yang bisa dilakukan. Sebagaimana upaya pengobatannya, ia melanjutkan, pencegahan penularan HIV juga mesti dilakukan dengan berbagai cara sekaligus termasuk di antaranya melalui promosi penggunaan kondom, penundaan kegiatan seksual awal, kampanye dan sosialisasi, penghapusan stigma dan peningkatan akses pelayanan pemeriksaan dan pengobatan bagi semua.
Sunday, 31 August 2008
Kenapa lalat sulit dipukul???

Sudah berapa kali Anda berhasil memukul lalat dengan tangan? Sulit bukan? Rahasia di balik kemampuan tersebut kini telah diketahui penjelasannya.
Selama 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) baru memecahkannya sekarang. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya.
"Sekarang saya punya jawabannya," ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.
Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otanya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.
Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya.
"Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai," ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman.
Artinya, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.
"Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya," ujarnya.
Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik.
Selama 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) baru memecahkannya sekarang. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya.
"Sekarang saya punya jawabannya," ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.
Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otanya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.
Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya.
"Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai," ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman.
Artinya, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.
"Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya," ujarnya.
Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik.
Singkawang tempoe doeloe dan sekarang
Friends

"WORLD BEST FRIENDS WEEK"
Your Love is Ur Heart,
Your heart is Ur Spouse,
Your spouse is Ur Future,
Your future is Ur Destiny,
Your destiny is Ur Ambition,
Your ambition is Ur Aspiration,
Your aspiration is Ur Motivation,
Your motivation is Ur Belief,
Your belief is Ur Peace,
Your peace is Ur Target,
Your target is Heaven,
Heaven is no fun without FRIENDS.
It's "World Best Friends Week"
F- Few
R- Relations
I - In
E- Earth
N- Never
D- Die
Ur Friend,
Subscribe to:
Posts (Atom)

